بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
SAFARI CHUBBUL WATHON MINAL IMAN
Penyusun: Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtaba Mu’thi
(Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia)
اَلْمُسَافِرَةُ الاِعْتِبَارِيَّة
AL MUSAAFIROTUL I'TIBARIYYAH
1. TUJUAN HIDUP
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan Aku tidak menjadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah Kepada-KU” (QS. Ad-Duriyat 56)
- Jasmani/ruhani yakni hidup. Pendengaran, penglihatan, tangan, kaki, otak, hati, lisan, akal, pikiran, khayal, angan-angan, perasaan, kesadaran, kemauan dan lain-lainnya diciptakan oleh Alloh Ta’ala hanyalah sebagai wadah. Dan wadah itu tujuannya untuk diisi Ibadah, diisi Khidmah, diisi pengabdian pada Alloh Ta’ala.
- Oleh sebab itu, aktifitas hidup tanpa isi ibadah kepada Alloh Ta’ala adalah hidup yang kosong, hidup yang muspro, hidup yang sia-sia, hidup yang tidak ada arti, hidup yang tidak bermakna bagi Alloh.
- Oleh sebab itu bagi orang yang beragama Islam, maka wajiblah berusaha agar hidup kita ini menjadi hidup yang bermakna bagi Alloh Ta’ala. Dan wajib berusaha agar terhindar dari hidup yang sia-sia.
- Apalah artinya pada diri kita ada jasmani, ada ruhani, ada akal, ada pikiran, apabila tidak ada artinya bagi Alloh Ta’ala. Itulah artinya mensia-siakan nikmat karunia Alloh Ta’ala. Begitu pula apa artinya kita memiliki harta benda jika harta benda itu tidak untuk berkhidmat kepada Alloh Ta’ala, adalah sia-sia saja.
2. اَلنِّيَة (NIAT)
Apakah Niat itu? Menurut syara’ niat itu ialah melaksanakan perintah-perintah Alloh dan menjauhi larangan-larangan Alloh. Baikpun perintah dhohir maupun perintah bathin. Baikpun larangan dhohir maupun larangan bathin yang dibarengi dengan kehendak berkhidmat kepada Alloh Ta’ala semata-mata.
Adapun bentuknya aktifitas hidup kita apabila tanpa dibarengi “Niat” berkhidmat kepada Alloh Ta’ala bukan ibadah namanya.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
اِنَّمَا الاَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ اِمْرِىءٍ مَانَوَى (عن عمر - متفق عليه)
Bersabda Rosululloh S.A.W:
“Sesungguhnya amal itu dengan niat dan sesungguhnya bagi tiap-tiap seorang itu terserah niatnya”.
Makan, minum, berpakaian, mandi, mencuci pakaian, melihat, mendengar, bercakap-cakap baik, berpergian, bangun, tidur, apabila tidak ada niat untuk melaksanakan perintah Alloh Ta’ala, itu perbuatan “Adat” namanya. Akan tetapi apabila dilaksanakan dengan niat berkhidmat kepada Alloh Ta’ala, itu namanya “Ibadat”.
3. اَلمَسَافِر (AL-MASAAFIR)
1. Di dalam Al Qur-an ada beberapa ayat yang memerintahkan kepada kita supaya kita mengadakan musafir:
1) Al-An'ām (Surat 6 : Ayat 11)
قُلْ سِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوْا
Artinya: “Katakan Muhammad Hendaklah Kamu Musafir dimuka bumi, maka lihatlah dengan fikiranmu”.
2) An-Naml (Surat 27 : Ayat 69)
قُلْ سِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوْا
3) Al-'Ankabūt (Surat 29 : Ayat 20)
قُلْ سِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوْا
4) Ar-Rūm (Surat 30 : Ayat 42)
قُلْ سِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوْا
5) Āli 'Imrān (Surat 3 : Ayat 137)
فَسِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوْا
Artinya: “Maka berjalanlah kamu dimuka bumi, kemudian lihatlah dengan fikiranmu”.
6) An-Naḥl (Surat 16 : Ayat 36)
فَسِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوْا
2. Pertanyaan-pertanyaan dari Alloh Ta’ala kepada kita sekalian:
1) Yūsuf Ayat 109: فَلَمْ يَسِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوْا
Artinya: “Apakah kamu tidak musafir dimuka bumi, kemudian kamu melihat dengan fikiranmu?”
2) Fāṭir Ayat 44: اَوَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الاَْرْضِ فَيَنْظُرُوْا
Artinya: “Mengapa kamu tidak musafir dimuka bumi, maka kemudian kamu melihat dengan fikiranmu?”
3) Ar-Rūm Ayat 9: اَوَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الاَْرْضِ فَيَنْظُرُوْا
Artinya: “Mengapa kamu tidak musafir dimuka bumi, maka kemudian kamu melihat dengan fikiranmu?”
4) Al-Ḥajj Ayat 46: اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الاَْرْضِ
Artinya: “Apakah kamu tidak musafir dimuka Bumi?”
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ :
سَافِرُوْا تَصِحُّوْا وَتُرْزَقُوْا
(Rawaahu Ibn 'Adiyy, 'an Muhammad bin 'Abdirrohman, Jaami'us Shoghir, Jilid II/47)
Bersabda Rosululloh SAW:
“Musafirlah kamu!, kamu akan menjadi sehat dan diberi rezeki.”
4. PERINTAH ALLOH TA'ALA
- Berapa kali Alloh Ta’ala perintah kepada kita supaya kita mengadakan musafir atau berjalan di muka bumi (قُلْ سِيْرُوْا) artinya katakanlah, hendaklah kamu berjalan (فِى الاَرْضِ) di muka bumi (فَانْظُرُوْا) maka hendaklah kamu melihat. Artinya melihat apa-apa di muka bumi sepanjang dengan akal, pikiran, perasaan.
- (سِيْرُوْا) adalah perintah berjalan dengan kaki, atau jasmaniyyah.
- (فَانْظُرُوْا) adalah perintah melihat dengan akal, pikiran, perasaan.
- Dan musafir dengan niat melaksanakan perintah Alloh Ta’ala adalah: Ibadah dhohiriyah dan ibadah bathiniyah. Dhohiriyahnya, melaksanakan perintah Alloh Ta’ala dalam kalimat (سِيْرُوْا فِى الاَرْضِ) dan ibadahnya melaksanakan perintah Alloh Ta’ala (فَانْظُرُوْا).
5. AL-HIKMAH
Dalam melaksanakan ibadah musafir itu, kita akan memperoleh hikmah-hikmah yang sangat banyak, diantaranya sebagaimana tersebut di dalam hadits di atas yaitu:
- تَصِحُّوْا (Tashihhu). Kita memperoleh kesehatan. Kesehatan jasmani, kesehatan pikiran, kesehatan kesadaran, kesehatan perasaan. Dengan kesehatan-kesehatan itu kita akan merasakan kesegaran jasmani dan ruhani, hilang kepenatan dalam pikiran.
- تُرْزَقُوْا (Turzaquu). Kita akan memperoleh rizki dari Alloh Ta’ala, baik Rizki Dhohir maupun Rizki Bathin. Itulah sebabnya, para Rosul-Rosul Alloh semuanya mengadakan “Musafir”:
- Nabiyulloh Ibrohim AS. mengadakan musafir dari Babylonia ke Syam, ke Mesir dan lain-lain Negeri.
- Nabiyulloh Luth AS. mengadakan musafir dari Babylonia ke Negeri Yordania.
- Nabiyulloh Ya’qub AS. musafir dari Kan’an ke Madyan.
- Nabiyulloh Musa AS. musafir dari Mesir ke Madyan dan lain-lain tempat yang jauh.
- Nabiyulloh Muhammad S.A.W. musafir dari Makkah ke Syria.
Jika orang lain banyak bepergian hanya rekreasi, tetapi kita mengadakan “Berpergian”, niat melaksanakan perintah Alloh Ta’ala (سِيْرُوْا فِى الاَْرْضِ).
Meskipun sama yang dikunjungi oleh orang-orang banyak, akan tetapi “lain” niatnya.
6. TEMPAT-TEMPAT YANG AKAN DIKUNJUNGI
Jika Alloh Ta’ala memberikan kesempatan kepada kita, fainsyaalloh akan mengunjungi beberapa tempat, diantaranya Ialah:
- Ziarah Makam Mbah Kyai Ahmad Syuhada’ – Losari
- Ziarah Makam Para Auliya’ di wilayah Jawa Timur
- Ziarah Makam Auliya’ di wilayah Jawa Tengah
- Ziarah Makam Auliya’ di wilayah Jawa Barat
- Masjid Istiqlal - Jakarta
- Monumen Nasional (MONAS)
- Stupa Borobudur
- Dan Lain-lain.
7. CINTA TANAH AIR
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الْاِيْمَانِ
Bersabda Rosululloh S.A.W: “Cinta Tanah Air Bagian Iman”
(Kitab Dalilul Falihin, Hal/26, oleh Muhammad Bin Aslan Ash-Shidiqqiy. Wafat: 1057 Hijriyyah)
Hadits ini oleh Beliau (Muhammad bin Aslan) diterangkan demikian:
فَيَنْبَغِى لِكَامِلِ الْاِيْمَانِ اَنْ يَعْمُرَ وَطَنَهُ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْاِحْسَانِ
“Maka seyogyanya bagi orang yang sempurna imannya, berbuat memakmurkan tanah airnya dengan amal sholeh dan ihsan”.
Pada hakekatnya, tiap-tiap manusia itu mempunyai dua macam tanah air yaitu:
- Tanah Air bagi Ruhani.
- Tanah Air bagi Jasmani.
Tanah air bagi jasmani itu ialah “Dunia”. Tanah air bagi ruhani itu ialah “Akhirat”.
Adapun Maksud Hadits (حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الْاِيْمَانِ) tersebut di atas, mengenai kedua-duanya, tanah air dunia dan tanah air akhirat. Kedua Tanah air itu wajib kita makmurkan dengan: “Amal sholih dan Ihsan”.
8. BERMACAM-MACAM BANGSA DAN SUKU BANGSA
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ
“Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah menciptakan kamu terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan aku jadikan kamu bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa, agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujrot Ayat 13)
وَمِنْ اٰيٰتِه خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ
“Dan sebagian ayat-ayat Nya kejadian langit dan bumi dan perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah ayat-ayat bagi orang yang berilmu” (QS. Ar-Ruum Ayat 22)
Bangsa Indonesia terdiri dari beberapa suku dan bermacam-macam adat kebudayaannya/bahasanya.
- Di dalam mengunjungi makam-makam waliyulloh nanti kita dapat mengambil pelajaran, bagaimanakah pejuang-pejuang islam dengan begitu uletnya dalam memperjuangkan agama islam di masyarakat yang luas.
- Dalam mengunjungi Masjid Istiqlal (Masjid untuk memperingati kemerdekaan Indonesia). Kita dapat menyaksikan ditengah-tengah Ibukota Republik Indonesia, berdirilah Masjid yang terbesar di Asia Tenggara.
- Sepanjang perjalanan kita dapat menyaksikan betapa agungnya nikmat Alloh Ta’ala yang di berikan kepada bangsa Indonesia, tanahnya subur airnya jernih, udaranya nyaman, bukit-bukitnya tinggi, tanamannya yang rimbun, hayawannya yang bermacam-macam, penduduknya yang ramah tamah.
Sebagaimana Alloh Ta’ala menyatakan dalam Al Qur-an:
وَالدَّوَابِّ وَالاَنْعَامِ مُخْتَلَفٌ اَلْوَانُهُ
“Dan binatang-binatang yang melata dan hayawan-hayawan ternak yang bermacam-macam warnanya”
Walhasil dalam safari kita itu adalah:
- Safari Spiritual
- Safari Hubbul Wathon
- Safari Perjuangan
- Safari Politik
- Safari Kebudayaan
9. AL-AKHLAQ
DALAM PERJALANAN, HENDAKLAH:
- Niat yang ikhlas melaksanakan perintah Alloh Ta’ala dalam ayat tersebut di atas.
- Hifdhul lisan (menjaga tutur kata), gerak-gerik yang sopan.
- Jangan bertengkar kepada siapapun.
- Berpakaian yang sopan.
- Ingat akan Alloh Ta’ala dalam sepanjang perjalanan.
- Jika kita ta’ajub akan sesuatu bacalah: (سُبْحَانَ الله), jika kita akan lupa akan Alloh Ta’ala cepat-cepatlah membaca: ISTIGHFAR.
- Banyak-banyak berdo’a kepada Alloh Ta’ala, mohon keselamatan, petunjuk dan kesehatan.
- Membawa buku untuk mencatat mana-mana yang perlu di catat.
- Dalam perjalanan kita usahakan mengerjakan Sholat Qhosor.
10. TATA CARA ZIAROH KE MAKAM WALIYULLOH
اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ
“Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Alloh itu tiadalah takut atas mereka dan tiadalah mereka itu bersedih hati (62) mereka adalah orang-orang yang beriman dan adalah mereka itu orang-orang yang Taqwalloh (63) bagi meeka adalah kegembiraan dalam waktu hidup di dunia dan hidup di akhirat (64)” (QS. Yunus 62-64)
- Wali-wali Alloh Ta’ala itu adalah orang-orang yang beriman yang sangat kuat, dan orang-orang yang bertaqwalloh itu adalah orang-orang yang di muliakan Alloh Ta’ala. Sebagaimana pernyataan Alloh dalam Al Qur-an:
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
(QS. Al-Hujurot Ayat 13) “Sesungguhnya paling mulia-muliamu adalah taqwamu”.
- Kita sebagai orang-orang yang berziarah ke makamnya orang-orang yang di muliakan Alloh Ta’ala itu, kita harus melakukan tata cara yang mulia, tata cara yang sopan, tata cara yang terpuji. Terpuji dalam hati, sopan dalam ucapan, sopan dalam pakaian, sopan dalam tingkah laku.
SOPAN DALAM PAKAIAN
- Berpakaian yang bersih dan menutupi aurat.
- Memakai bau yang harum.
SOPAN DALAM UCAPAN
- Kalau bicara, bicaralah yang baik, jangan membahas hal yang tidak baik.
- Atau banyak diam daripada banyak bicara.
- Banyak-banyak membaca Sholawat Nabi sepanjang perjalanan.
- Jangan bertengkar, harus saling tolong-menolong, jangan Bakhil, jangan banyak senda gurau.
SOPAN DALAM HATI
- Hendaklah niat yang ikhlas, semata-mata melaksanakan perintah Alloh dan Rosululloh. Karena Ziaroh kuburannya orang-orang Taqwalloh itu adalah perintah Rosululloh.
- Jangan minta-minta kepada kuburannya wali-wali. Karena demikian itu bisa dekat kepada Kemusyrikan.
- Jangan hati Ngersula bila bertemu kepada hal-hal yang tidak diingini oleh hatinya.
SOPAN DALAM TINGKAH LAKU DI DALAM MAKAM
- Jika masuk makam hendaklah membaca:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَاوَلِيَّ الله * اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَااَهْلَ الْقُبُوْرِ
- Kaki yang kanan didahulukan bila masuk, kaki kiri dahulu jika keluar.
- Sandal/Sepatu dilepas.
- Dalam Maqom, soal bacaannya tunggu mengikuti pimpinan (Mursyid Shiddiqiyyah).
SOPAN DALAM PERJALANAN ATAU PENGINAPAN
- Makan, minum yang sopan.
- Buang air kecil maupun besar harus sopan.
- Haruslah jaga menjaga jika dalam penginapan.
11. KETENTUAN SHOLAT BAGI ORANG MUSAFIR
MAS'ALAH SHOLATNYA:
Kita akan melaksanakan Sholat Jama’-Qoshor:
- Dhuhur / Ashar = cukup 2 roka’at.
- Maghrib / Isya’ = Jama’ biasa.
KETENTUAN WAJIBNYA SHOLAT BAGI ORANG MUSAFIR (DI PERJALANAN MAUPUN PENGINAPAN):
- Orang yang sedang musafir tidak ada kewajiban Sholat Jum’at.
- Bagi orang yang musafir: sholatnya Dhuhur di wajibkan hanya 2 roka’at, bukan 4 roka’at. Sholatnya Ashar di wajibkan hanya 2 roka’at bukan 4 roka’at. Sholatnya Maghrib tetap 3 roka’at, sholatnya Shubuh tetap 2 roka’at, jadi bagi orang yang sedang musafir baik dalam perjalanan maupun dalam penginapan, sehari semalam hanya sebelas roka’at, bukan 17 roka’at.
- Bagi orang yang musafir Sholat Dhuhur 2 roka’at, Ashar 2 roka’at, Isya’ 2 roka’at bukan Sholat Qhosor (kependekan dari sholat 4 roka’at) tetapi namanya Sholat Tamaamum (Sholat sempurna).
- Boleh Sholat Ashar Jama’ dengan Sholat Dhuhur, namanya Sholat Ashar Jama’ Taqdim artinya Sholat Ashar dikerjakan di waktu Dhuhur.
- Boleh Sholat Dhuhur Jama’ dikerjakan di waktu Ashar, namanya Sholat Dhuhur Jama’ Ta’khir, tetapi urutannya tidak berubah. Sholat Dhuhur dahulu 2 roka’at, baru Sholat Ashar 2 roka’at.
- Boleh Sholat Isya’ dikerjakan di waktu Maghrib, namanya Sholat Isya’ Jama’ Taqdim, urutannya tetap Sholat Maghrib 3 roka’at, Sholat Isya’ 2 roka’at.
- Boleh Sholat Isya’ dikerjakan di waktu Maghrib namanya Sholat Isya’ Jama’ Taqdim. Urutannya tetap 3 roka’at Isya’ 2 roka’at.
- Boleh Sholat Dhuhur, atau Ashar, atau Maghrib, atau Isya’ tidak dikerjakan karena lupa atau ketiduran, maka di waktu ingat itulah waktunya mengerjakan wajib melaksanakannya, namanya Sholat Qodlo’.
- Bagi kaum wanita yang sedang ‘udzur tidak boleh mengerjakan sholat wajib, tetapi bila telah suci tidak wajib qodlo’.
- Bagi kaum wanita yang sedang ‘udzur tidak boleh ikut wiridan membaca surat Al Qur-an. Cukuplah membaca sholawat yang banyak.
- Sholat-Sholat fardlu di atas boleh dikerjakan secara Jama’ah (imam dengan makmum), tidak boleh dikerjakan secara sendirian tanpa imam. Namanya Sholat Munfarid.
- Bila akan berangkat melanjutkan perjalanan dari penginapannya, sebaiknya Sholat Sunnat Musafir dahulu 2 roka’at.
- Akan naik kendaraan membaca:
بِسْمِ اللهِ مَجْرَىهَاوَمُرْسَهَااِنَّ رَبِّ لَغَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
- Turun dari kendaraan membaca:
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
- Bila melihat sesuatu yang menakjubkan, bacalah:
سُبْحَانَ اللهِ
- Bila melihat sesuatu yang mengerikan, bacalah:
اللهُ اَكْبَرُ
- Dalam segala hal menghadapi adanya berita bermacam-macam penyakit cukuplah membaca:
بِسْمِ اللهِ ثِقَةً بِاللهِ وَتَوَكُّلاً عَلَى اللهِ
ADAB KEPADA PETUGAS & JURU KUNCI
- Bila memungkinkan, catatlah nama-nama juru kunci atau petugas untuk Ta’aruf/perkenalan.
- Bila mohon pamit hendaklah yang sopan.
- Usahakan agar terkenang dalam hatinya para petugas-petugas itu.
- Bila ada kata-kata atau hal-hal yang tidak berkenan di dalam hati para petugas, mohonlah ma’af kepadanya.
- Usahakanlah rendah hati, jangan bersifat kibir.